Kemisikinan


Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan yang pokok, dikatakan berada dibawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dll.

Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai inspirasi dasar dan perjuangan akar kemerdekaan bangsa dan motovasi fundamental dari cita-cita menciptakan masyarakat adil dan makmur.

Garis kemiskinan yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok bisa dipengaruhi oleh tiga hal :

1. Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan

2. Polisi manusia dalam lingkungan sekitar

3. Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi

Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan , adat – istiadat, dan system nilai. Dalam hal ini garis kemiskinan dapat tinggi dan rendah. Terhadap posisi manusia dalam lingkungan sosial, bukan ukuran kebutuhan yang menentukan melainkan, bagaimana posisi pendapatnya ditengah-tengah masyarakat sekitar. Kebutuhan objektif manusia untuk hidup secara manusiawi ditentukan oleh komposisi pangan apakah bernilai gizi cukup dengan nilai protein dan kalori cukup sesuai dengan tingkat umur, jenis kelamin, sifat pekerjaan, keadaan iklim dan lingkungan yang dialaminya.

Kesemuanya dapat tersimpul dalam barang dan jasa yang tertuangkan dalam nilai uang sebagai patokan bagi penepatan pendapat minimal yang diperlukan, sehingga garis kemiskinan ditentukan tingkat pendapatan minimal (versi Bank Dunia di kota USD 75 dan didesa USD 50 per jiwa setahun, 1973). Menurut Prof. Sayogya (1969) garis kemiskinan dinyatakan dalam Rupiah pertahun, ekuivalen dengan nilai tukar beras (kg / orang / bulan) yaitu untuk dipedesaan sebesar 320 kg/orang/tahun dan untuk diperkotaan sebesar 480 kg/orang/tahun).

Atas dasar ukuran ini maka mereka yang hidup di garis kemiskinan memiliki cirri-ciri sebagai berikut :

a. Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan dsb

b. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan atau model usaha

c. Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat sekolah dasar karena harus membantu orang tua mencari tambahan penghasilan

d. Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas self employed

e. Banyak yang hidup di kota berusia muda dan tidak mempunyai ketrampilan

Kemiskinan menurut lapangan (umum) dapat dikategorikan kedalam tiga unsure kemiskinan yaitu :

1. Kemiskinan yang disebabkan handicap badaniah ataupun mental seseorang

2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bendana alam

3. Kemiskinan buatan

Yang relevan dalam hal ini adalah kemiskinan buatan, buatan manusia terhadap manusia pula yang disebut dengan kemiskinan structural. Itulah kemiskinan yang timbul oleh dan dari struktur-struktur (buatan manusia) baik stuktur ekonomi, politik, sosial, maupun kultur.

Kemiskinan buatan ini selain ditimbulkan oleh struktur ekonomi, politik. Sosial dan kultur, juga dimanfaatkan oleh sikap “penenagan” atau “nrimo” memandang kemiskinan sebagai nasib, malahan sebagai takdir dari Tuhan.

Kemiskinan menjadi suatu kebudayaan (culure of provierty) atau suatu subkultur, yang mempunyai struktur dan way of life yang telah menjadi turun-temurun melalui jalur keluarga. Kemiskinan itu disebabkan oleh dan selama proses perubahan sosial secara fundamental seperti transisi dari feodalisme ke kapitalisme, perubahan teknologi yang cepat, kolonialisme, dst. Obatnya tidak lain adalah revolusi yang sama radikal dan meluasnya.

Karena kemiskinan diantaranya disebabkan oleh stuktur ekonomi maka terlebih dahulu perlu memahami inti pokok dari suatu subjek dan objek dan antara sibjek dari komponen yang penting dalam hal ini adalah pola relasi. Ini mencakup masalah kondisi dan posisi komponen dari stuktur yang bersangkutan dalam keseluruhan fungsi dan system.

 

Kesimpulan :

 

Kemiskinan adalah masalah yang sangat mendasar disetiap negara didunia, tetapi sangatlah susah untuk menghilangkan kemiskinan tersebut, karena kemiskinan bukan masalah punya atau tidak punya uang tetapi masalah peluang dan kesempatan. Karena tidak ada orang kaya bila ada orang miskin , makanya semua itu adalah keseimbangan hidup didalam proses kehidupan ini.

Jadi kemiskinan bukannya harus diberantas tetapi harus disejahterakan dan diperhatikan. Lewat pendidikan gratis bagi masyarakat kurang mampu baik pendidikan dasar, menengah dan lanjutan setingkat perguruan tinggi. Karena percaya atau tidak percaya kekayaan sejati adalah kekayaan ilmu dan kemiskinan adalah kemiskinan ilmu. Apalagi bila ilmu yang diperoleh dapat dimanfaatkan bagi kepentingan umum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s