Peraturan sebagai batasan perilaku masyarakat


Konon katanya negeri kita yang indah dan kaya akan kebudayaan ini adalah negeri  yang menjunjung tinggi hukum, negeri yang menganut budaya  adat ketimuran. Sebenarnya apa sih itu hukum? Apa sih itu budaya?. Hukum adalah kesepakatan bersama yang di biasanya dituangkan dalam bentuk undang-undang  atau peraturan pemerintah yang dimana didalamnya merepresentasikan tentang aturan-aturan yang diterapkan disebuah Negara. Sedangkan adat adalah sebuah kebiasaan yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Namun kenapa seperti semua orang menganggap semua itu adalah sampah, adalah suatu hal yang dianggap biasa. Mau dikemanakan negeri ini bila 1 juta orang berpendapat seperti itu? Hmmm….mungkin semua ini perlu dikaji kembali mengenai aplikasi nyata mengenai penerapan hukum dimasyarakat kita saat ini.

Contoh yang paling sederhana  yaitu maraknya aksi para pengendara kendaraan menyerobot lampu merah seenaknya dengan alasan yang bermacam-macam, mulai dari capek perjalanan panjang, lama menunggu lampu merah dan mengejar waktu. Kesemuanya itu tentunya tidak dapat dibiarkan begitu saja. Karena jelas-jelas aksi ini sangat merugikan masyarakat pengguna jalan lain. Salahkan bila polisi menindak dengan tegas pelanggaran-pelanggaran tersebut? Menurut penulis memang seharunya aparat pemangku kebijakan penegakan hukum di Indonesia harus selalu mewujudkan masyarakat yang patuh dan peduli hukum dan menindak tegas para pelanggar hukum tersebut.

Sebenarnya pelanggaran lalu lintas seperti hal tersebut sangatlah sepele, tapi  tahukah anda? Bila ini semua dibiarkan maka akan mengakibatkan kecelakaan, perkelahian dan bentuk kekerasan yang lain yang tidak mencermikan sebuah budaya bangasa Indonesia. Contoh kecil saya pernah mengalami kejadian tepatnya diperempatan Ampera Jakarta Selatan, disana saya melihat aksi melanggar lalu lintas yang hampir mengakibatkan bertikaian antara pengendara sepeda motor, dan lebih parahnya salah satu diantaranya mengeluarkan senjata api. Padahal menurut pengamatan saya bahwa keduanya melangar lalu lintas yang pertama melanggar lampu merah dan yang kedua (pengendara kedua) melanngar marka jalan yang seharusnya seorang pendara berhenti dibelakang garis marka. Hal-hal tersebut bisa sebenarnya diminimalisasi dengan cara penegakan hukum yang tegas bila perlu digalangkan kembali mengenai sopan berlalu lintas dijalan. Serta perlunya penambahan personel kepolisian / pos polisi disekitar daerah rawan terjadinya tindak pelanggaran lalu lintas seperti yang terjadi diatas.

Negara kita ini adalah negara  hukum yang seharusnya masyaratakat didalamnya menjunjung tinggi nilai-nilai hukum dan mematuhinya baik dalam bidang lalu lintas ataupun bidang yang lain. Tidak sulit untuk mewujudkan itu semua tetapi hanya perlu dengan iktikad  tenggang rasa dan saling menghargai antar warga Negara mungkin dapat meredam itu semua, rasa senasip dan sepenggungan, rasa kesetiakawanan dst. Kalo bukan kita yang menghargai hukum dan tata tertib trus siapa lagi yang harus menghargai dan melaksanakannya? Warga Negara Asing?.

Tentunya selalu senantiasa menjaga dan menghargai hukum atau undang-undang yang telah ditentukan, karena undang-undang dibuat untuk kepentingan bersama dan bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Jadi didalam meyikapi permasalahan yang melibatkan antar individu hendaknya disikapi dengan sabar dan rendah diri agar tercipta suasana yang nyaman dan tercipta kondisi yang kondusif. Tentunya kita tidak ingin negeri ini kacau balau dan tidak beraturan,tentunya kita ingin negeri yang damai dan sejahtera, nyaman dan tentram serta aman dari segala bentuk tindakan kejahatan.

Tanggung jawab bersama menciptakan negeri yang aman dan kondusif bebas dari permasalahan-permasalaha yang dapat memicu perpecahan. Pemerintah hanya mengesahkan undang-undang dan masyarakatlah yang seharusnya turut serta mengawal undang-undang tersebut selain aparat penegak hukum. Peran masyarakat memang sangatlah diperlukan dalam kegiatan penciptaan kondisi tersebut.

Hal-hal yang mempengaruhi terciptanya suatu keadaan yang kondusif yaitu :

1. Masyarakat harus dapat mengendalikan diri

2. Harus dapat menjadi panutan bagi disi sendiri dan orang lain

3. Kepedulian terhadap sesama

4. Rasa saling menghargai antar individu, dst

Andaikata semua itu akan dapat dilaksanakan maka akan tercipta suatu kondisi yang aman dan nyaman bagi kita semua. Moralisme anak bangsa kini dipertaruhkan didalam percaturan dunia, maka jadilah anak bangsa yang saling menghargai karena pepatah mengatakan “Sebelum menghargai orang lebih baik hargai diri sendiri”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s